Sunday, 15 May 2016

KEJUJURAN YANG TERCELA

Pada asalnya, kejujuran itu sangat terpuji dalam syari’at. Allah ta’ala telah menjelaskan bahwa kejujuran itu merupakan sifat orang yang beriman.
ุฅِู†ّู…َุง ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ุงู„ّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุงْ ุจِุงู„ู„ّู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆู„ِู‡ِ ุซُู…ّ ู„َู…ْ ูŠَุฑْุชَุงุจُูˆุงْ ูˆَุฌَุงู‡َุฏُูˆุงْ ุจِุฃَู…ْูˆَุงู„ِู‡ِู…ْ ูˆَุฃَู†ูُุณِู‡ِู…ْ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„ّู‡ِ ุฃُูˆْู„َู€َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ุตّุงุฏِู‚ُูˆู†َ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu; dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” [QS. Al-Hujuraat : 15].

Tidaklah kejujuran itu akan membawa pelakunya kecuali kepada surga. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ุนู„ูŠูƒู… ุจุงู„ุตุฏู‚ ูุฅู† ุงู„ุตุฏู‚ ูŠู‡ุฏู‰ ุฅู„ู‰ ุงู„ุจุฑ ูˆุฅู† ุงู„ุจุฑ ูŠู‡ุฏู‰ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู†ุฉ ูˆู…ุง ูŠุฒุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุตุฏู‚ ูˆูŠุชุญุฑู‰ ุงู„ุตุฏู‚ ุญุชู‰ ูŠูƒุชุจ ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุตุฏูŠู‚ุง ูˆุฅูŠุงูƒู… ูˆุงู„ูƒุฐุจ ูุฅู† ุงู„ูƒุฐุจ ูŠู‡ุฏู‰ ุฅู„ู‰ ุงู„ูุฌูˆุฑ ูˆุฅู† ุงู„ูุฌูˆุฑ ูŠู‡ุฏู‰ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ูˆู…ุง ูŠุฒุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูŠูƒุฐุจ ูˆูŠุชุญุฑู‰ ุงู„ูƒุฐุจ ุญุชู‰ ูŠูƒุชุจ ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูƒุฐุงุจุง
“Berpegangteguhlah pada kejujuran karena kejujuran membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan hati-hatilah kamu terhadap kedustaan karena kedustaan membawa kejahatan dan kejahatan itu membawa kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta“ [HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607].

Akan tetapi, ada beberapa hal yang dikecualikan dimana orang yang jujur malah tidak mendapat sanjungan sebagaimana di atas. Apakah itu ? Berikut penjelasannya……

  1. Ghibah

    Ghibah atau menggunjing (ngrumpi, nggosip) merupakan perkataan jujur yang tercela dan merupakan khianat terhadap aib-aib kaum muslimin yang seharusnya ditutupi. Allah ta’ala berfirman :
    ูˆَู„ุงَ ูŠَุบْุชَุจ ุจّุนْุถُูƒُู… ุจَุนْุถุงً ุฃَูŠُุญِุจّ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ุฃَู† ูŠَุฃْูƒُู„َ ู„َุญْู…َ ุฃَุฎِูŠู‡ِ ู…َูŠْุชุงً ูَูƒَุฑِู‡ْุชُู…ُูˆู‡
    “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya “ [QS. Al-Hujuraat : 12].

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    ุฃุชุฏุฑูˆู† ู…ุง ุงู„ุบูŠุจุฉ ู‚ุงู„ูˆุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ุฃุนู„ู… ู‚ุงู„ ุฐูƒุฑูƒ ุฃุฎุงูƒ ุจู…ุง ูŠูƒุฑู‡ ู‚ูŠู„ ูุฑุฃูŠุช ุฅู† ูƒุงู† ููŠ ุฃุฎูŠ ู…ุง ุฃู‚ูˆู„ ู‚ุงู„ ุฅู† ูƒุงู† ููŠู‡ ู…ุง ุชู‚ูˆู„ ูู‚ุฏ ุงุบุชุจุชู‡ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠูƒู† ููŠู‡ ูู‚ุฏ ุจู‡ุชู‡
    “Apakah kalian tahu apa ghibah itu ?” Para shahabat menjawab : ”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda : ”Jika kamu menyebut saudaramu tentang apa yang ia benci, maka kamu telah melakukan ghibah”. Beliau ditanya : ”Bagaimana jika sesuatu yang aku katakan ada pada saudaraku?” Beliau menjawab : ”Bila sesuatu yang kamu bicarakan ada padanya maka kamu telah melakukan ghibah, dan apabila yang kamu bicarakan tidak ada maka kamu telah membuat kebohongan atasnya “ [HR. Muslim no. 2589, Abu Dawud no. 4874, At-Tirmidzi no. 1934, Ahmad 2/230, Ad-Darimi no. 2717, dan yang lainnya].

    Ghibah itu hukumnya haram, baik sedikit ataupun banyak.
    ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ู‚ุงู„ุช : ู‚ู„ุช ู„ู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุญุณุจูƒ ู…ู† ุตููŠุฉ ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุง ู‚ุงู„ ุบูŠุฑ ู…ุณุฏุฏ ุชุนู†ูŠ ู‚ุตูŠุฑุฉ ูู‚ุงู„ ู„ู‚ุฏ ู‚ู„ุช ูƒู„ู…ุฉ ู„ูˆ ู…ุฒุฌุช ุจู…ุงุก ุงู„ุจุญุฑ ู„ู…ุฒุฌุชู‡
    Dari ’Aisyah ia berkata : ”Aku pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ‘Cukuplah Shafiyyah itu begini dan begitu’. Salah seorang perawi berkata bahwa yang dimaksud ‘Aisyah adalah Shafiyyah itu pendek badannya. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang seandainya dicelupkan ke dalam air laut niscaya akan berubah warnanya” [HR. Abu Dawud no. 4875, At-Tirmidzi no. 2502, Ahmad 6/128, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1080; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/196].
    ุนู† ุฃู†ุณ ุจู† ู…ุงู„ูƒ ู‚ุงู„ ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… : ู„ู…ุง ุนุฑุฌ ุจูŠ ู…ุฑุฑุช ุจู‚ูˆู… ู„ู‡ู… ุฃุธูุงุฑ ู…ู† ู†ุญุงุณ ูŠุฎู…ุดูˆู† ูˆุฌูˆู‡ู‡ู… ูˆุตุฏูˆุฑู‡ู… ูู‚ู„ุช ู…ู† ู‡ุคู„ุงุก ูŠุง ุฌุจุฑูŠู„ ู‚ุงู„ ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ุฐูŠู† ูŠุฃูƒู„ูˆู† ู„ุญูˆู… ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠู‚ุนูˆู† ููŠ ุฃุนุฑุงุถู‡ู…
    Dari Anas bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : “Ketika aku sedang dimi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga yang sedang mencakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya : ‘Siapakah mereka wahai Jibril ?’. Jibril menjawab : ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatannya” [HR. Abu Dawud no. 4878 dan Ahmad 3/224; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/197 dan Ash-Shahiihah no. 533].

    Ibnu Katsir menjelaskan :
    ูˆุงู„ุบูŠุจุฉ ู…ุญุฑู…ุฉ ุจุงู„ุฅุฌู…ุงุน, ูˆู„ุง ูŠุณุชุซู†ู‰ ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฅู„ุง ู…ู† ุฑุฌุญุช ู…ุตู„ุญุชู‡, ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ูˆุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ูƒู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…, ู„ู…ุง ุงุณุชุฃุฐู† ุนู„ูŠู‡ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฑุฌู„ ุงู„ูุงุฌุฑ: «ุงุฆุฐู†ูˆุง ู„ู‡ ุจุฆุณ ุฃุฎูˆ ุงู„ุนุดูŠุฑุฉ!» ูˆูƒู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ูุงุทู…ุฉ ุจู†ุช ู‚ูŠุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง, ูˆู‚ุฏ ุฎุทุจู‡ุง ู…ุนุงูˆูŠุฉ ูˆุฃุจูˆ ุงู„ุฌู‡ู…: «ุฃู…ุง ู…ุนุงูˆูŠุฉ ูุตุนู„ูˆูƒ, ูˆุฃู…ุง ุฃุจูˆ ุงู„ุฌู‡ู… ูู„ุง ูŠุถุน ุนุตุงู‡ ุนู† ุนุงุชู‚ู‡» ูˆูƒุฐุง ู…ุง ุฌุฑู‰ ู…ุฌุฑู‰ ุฐู„ูƒ, ุซู… ุจู‚ูŠุชู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฑุญูŠู… ุงู„ุดุฏูŠุฏ
    “Menurut kesepakatan, ghibah merupakan perbuatan yang diharamkan, dan tidak ada pengecualian dalam hal ini kecuali jika terdapat kemaslahatan yang lebih kuat, seperti misal dalam al-jarh wat-ta’dil dan nasihat. Hal itu sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika ada seorang jahat yang meminta ijin kepada beliau : ‘Berikanlah oleh kalian ijin kepadanya, ia adalah seburuk-buruk saudara dalam keluarga’. Dan juga seperti sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah binti Qais radliyallaahu ‘anhaa ketika dilamar oleh Mu'awiyyah dan Abul-Jahm : ‘Adapun Mu’awiyyah adalah seorang yang tidak emmpunyai harta. Sedangkan Abul-Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (ringan tangan)’. Demikianlah yang memang terjadi dan berlangsung. Kemudian selain dari hal yang di atas, maka hukumnya haram, yang karenanya pelakunya diberikan ancaman keras” [Tafsir Ibnu Katsir hal. 517 – Free Program from http://www.islamspirit.com/].

    Jumhur ‘ulamaa menjelaskan bahwa ghibah itu termasuk dosa besar. Dalil yang menjadi sandaran tentang hal tersebut adalah :
    ุนู† ุณุนูŠุฏ ุจู† ุฒูŠุฏ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ : ุฅู† ู…ู† ุฃุฑุจู‰ ุงู„ุฑุจุง ุงู„ุงุณุชุทุงู„ุฉ ููŠ ุนุฑุถ ุงู„ู…ุณู„ู… ุจุบูŠุฑ ุญู‚
    Dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya termasuk dari riba yang paling berat adalah terus-menerus melanggar kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang benar” [HR. Abu Dawud no. 4876 dan Al-Baihaqi 10/241; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/197].

    Bagaimana cara bertaubat dari ghibah ?

    Ibnu Katsir menjelaskan :
    ู‚ุงู„ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก: ุทุฑูŠู‚ ุงู„ู…ุบุชุงุจ ู„ู„ู†ุงุณ ููŠ ุชูˆุจุชู‡ ุฃู† ูŠู‚ู„ุน ุนู† ุฐู„ูƒ ูˆูŠุนุฒู… ุนู„ู‰ ุฃู† ู„ุง ูŠุนูˆุฏ, ูˆู‡ู„ ูŠุดุชุฑุท ุงู„ู†ุฏู… ุนู„ู‰ ู…ุง ูุงุช ؟ ููŠู‡ ู†ุฒุงุน, ูˆุฃู† ูŠุชุญู„ู„ ู…ู† ุงู„ุฐูŠ ุงุบุชุงุจู‡. ูˆู‚ุงู„ ุขุฎุฑูˆู†: ู„ุง ูŠุดุชุฑุท ุฃู† ูŠุชุญู„ู„ู‡ ูุฅู†ู‡ ุฅุฐุง ุฃุนู„ู…ู‡ ุจุฐู„ูƒ ุฑุจู…ุง ุชุฃุฐู‰ ุฃุดุฏ ู…ู…ุง ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุนู„ู… ุจู…ุง ูƒุงู† ู…ู†ู‡ ูุทุฑูŠู‚ู‡ ุฅุฐุงً ุฃู† ูŠุซู†ูŠ ุนู„ูŠู‡ ุจู…ุง ููŠู‡ ููŠ ุงู„ู…ุฌุงู„ุณ ุงู„ุชูŠ ูƒุงู† ูŠุฐู…ู‡ ููŠู‡ุง, ูˆุฃู† ูŠุฑุฏ ุนู†ู‡ ุงู„ุบูŠุจุฉ ุจุญุณุจู‡ ูˆุทุงู‚ุชู‡, ู„ุชูƒูˆู† ุชู„ูƒ ุจุชู„ูƒ
    “Jumhur ulama mengatakan : ‘Jalan yang harus ditempuh orang yang berbuat ghibah adalah dengan melepaskan diri darinya dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya kembali’. Apakah dalam taubat itu disyaratkan adanya penyesalan atas segala yang telah berlalu dan meminta maaf kepada orang yang telah dighibahinya itu ? Mengenai hal ini, terdapat perbedaan pendapat. Ada ulama yang mensyaratkan agar meminta penghalalan (maaf) kepada orang yang dighibah. Ada yang berpendapat, tidak disyaratkan baginya meminta maaf kepadanya. Karena jika ia memberitahukan apa yang telah dighibahkannya itu kepadanya, barangkali ia akan merasa lebih sakit daripada jika ia tidak diberitahu. Dengan demikian, cara yang harus ia tempuh adalah memberi sanjungan kepada orang yang telah dighibahnya itu di tempat-tempat dimana ia telah mencelanya. Selanjutnya ia menghindari ghibah orang lain atas orang itu sesuai dengan kemampuannya. Sehingga ghibah itu dibayar dengan pujian” [Tafsir Ibnu Katsir, hal. 517 – Free Program from http://www.islamspirit.com/].

    Pendapat kedua lah yang lebih dekat dengan kebenaran. Ibnul-Qayyim menjelaskan secara lebih detail :
    ูŠุฐูƒุฑ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ูƒูุงุฑุฉ ุงู„ุบูŠุจุฉ ุฃู† ุชุณุชุบูุฑ ู„ู…ู† ุงุบุชุจุชู‡، ุชู‚ูˆู„ : ((ุงู„ู„ู‡ู… ุงุบูุฑ ู„ู†ุง ูˆู„ู‡)). ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ููŠ ูƒุชุงุจ ((ุงู„ุฏุนูˆุงุช ุงู„ูƒุจูŠุฑ))، ูˆู‚ุงู„ : ููŠ ุฅุณู†ุงุฏู‡ ุถุนู.
    ูˆู‡ุฐู‡ ู…ุณุฃู„ุฉ ููŠู‡ุง ู‚ูˆู„ุงู† ู„ู„ุนู„ู…ุงุก - ู‡ู…ุง ุฑูˆุงูŠุชุงู† ุนู† ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ - ، ูˆู‡ู…ุง : ู‡ู„ ูŠูƒููŠ ููŠ ุงู„ุชูˆุจุฉ ู…ู† ุงู„ุบูŠุจุฉ ุงู„ุงุณุชุบูุงุฑ ู„ู„ู…ุบุชุงุจ، ุฃู… ู„ุงุจุฏ ู…ู† ุฃุนู„ุงู…ู‡ ูˆุชุญู„ู„ู‡؟
    ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุฅุนู„ุงู…ู‡، ุจู„ ูŠูƒููŠู‡ ุงู„ุงุณุชุบูุงุฑ ู„ู‡، ูˆุฐูƒุฑู‡ ุจู…ุญุงุณู† ู…ุง ููŠู‡ ููŠ ุงู„ู…ูˆุงุทู† ุงู„ุชูŠ ุงุบุชุงุจู‡ ููŠู‡ุง.ูˆู‡ุฐุง ุงุฎุชูŠุงุฑ ุดูŠุฎ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุงุจู† ุชูŠู…ูŠุฉ، ูˆุบูŠุฑู‡.
    ูˆุงู„ุฐูŠู† ู‚ุงู„ูˆุง : ู„ุงุจุฏ ู…ู† ุฅุนู„ุงู…ู‡؛ ุฌุนู„ูˆุง ุงู„ุบูŠุจุฉ ูƒุงู„ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ู…ุงู„ูŠุฉ، ูˆุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุธุงู‡ุฑ، ูุฅู† ููŠ ุงู„ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ู…ุงู„ูŠุฉ ูŠู†ุชูุน ุงู„ู…ุธู„ูˆู… ุจุนูˆุฏ ู†ุธูŠุฑ ู…ุธู„ู…ุชู‡ ุฅู„ูŠู‡، ูุฅู† ุดุงุก ุฃุฎุฐู‡ุง، ูˆุฅู† ุดุงุก ุชุตุฏู‚ ุจู‡ุง.
    ูˆุฃู…ุง ููŠ ุงู„ุบูŠุจุฉ، ูู„ุง ูŠู…ูƒู† ุฐู„ูƒ، ูˆู„ุง ูŠุญุตู„ ู„ู‡ ุจุฅุนู„ุงู…ู‡ ุฅู„ุง ุนูƒุณ ู…ู‚ุตูˆุฏ ุงู„ุดุงุฑุน، ูุฅู†ู‡ ูŠูˆุบุฑ ุตุฏุฑู‡ ูˆูŠุคุฐูŠู‡ ุฅุฐุง ุณู…ุน ู…ุง ุฑُู…ِูŠَ ุจู‡، ูˆู„ุนู„ู‡ ูŠُู†ْุชِุฌُ ุนุฏุงูˆุชู‡، ูˆู„ุง ูˆุตููˆ ู„ู‡ ุฃุจุฏุงً، ูˆู…ุง ูƒุงู† ู‡ุฐุง ุณุจูŠู„ู‡ ูุฅู† ุงู„ุดุงุฑุน ุงู„ุญูƒูŠู… ู„ุง ูŠุจูŠุญู‡ ูˆู„ุง ูŠُุฌَูˆِّุฒُู‡، ูุถู„ุงً ุนู† ุฃู† ูŠูˆุฌุจู‡ ูˆูŠุฃู…ุฑ ุจู‡، ูˆู…ุฏุงุฑ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ุนู„ู‰ ุชุนุทูŠู„ ุงู„ู…ูุงุณุฏ ูˆุชู‚ู„ูŠู„ู‡ุง، ู„ุง ุนู„ู‰ ุชุญุตูŠู„ู‡ุง ูˆุชูƒู…ูŠู„ู‡ุง، ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…
    ”Disebutkan dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa kaffarah (tebusan) perbuatan ghibah adalah dengan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang dighibahi dengan mengatakan : ”Ya Allah, ampunilah kami dan dia”. Ini disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Ad-Da’awaat Al-Kabiir dan ia mengatakan dalam sanadnya terdapat kelemahan.

    Ada dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini, keduanya merupakan riwayat dari Al-Imam Ahmad, yaitu : Apakah sudah mencukupi bertaubat dari perbuatan ghibah hanya dengan memohonkan ampunan untuk orang yang dighibahi ? Ataukah harus memberitahukannya dan minta dihalalkan ?

    Yang benar, bahwasannya tidak perlu memberitahukannya, akan tetapi cukup baginya memohonkan ampunan serta menyebutkan kebaikan-kebaikan yang ada padanya di tempat-tempat dimana ia telah membicarakan (meng-ghibah) orang tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya.

    Adapun orang yang mengharuskan untuk memberitahukannya, mereka menganggap bahwa ghibah itu seperti hak-hak harta. Sedangkan perbedaan keduanya sangat jelas, karena dalam kasus hak harta, yang terdhalimi akan mendapatkan manfaat dengan dikembalikannya semisal kedhalimannya. Maka jika ia menghendaki boleh diambilnya, atau dia shadaqahkan harta tersebut jika ia mau.

    Adapun dalam kasus ghibah, maka hal itu tidak memungkinkan, dan tidak akan ia peroleh melalui keterangannya itu kecuali kebalikan dari yang dimaksud oleh Pembuat syari’at, karena hal itu justru membuat dadanya panas, dan menyakitinya jika ia mendengar apa yang dighibahkan tentang dirinya, dan mungkin sekali itu akan membangkitkan rasa permusuhan serta tidak menjernihkan permasalahan selama-lamanya. Dan apapun yang seperti ini jalannya, maka Pembuat syari’at yang bijaksana tidaklah memperkenankannya dan tidak mengijinkannya, lebih-lebih mewajibkan apalagi memerintahkannya. Adapun poros beredarnya syari’at ini adalah menghilangkan kerusakan (yang ada) dan meminimalkannya, bukan untuk menimbulkan kerusakan (yang baru) atau (bahkan) menyempurnakannya. Allahu a’lam” [selesai perkataan Ibnul-Qayyim – Al-Waabilush-Shayyib wa Raafi’ul-Kalimith-Thayyib, hal. 389-390, tahqiq : ’Abdurrahman bin Hasan bin Qaaid, isyraf : Bakr Abu Zaid; Daar ’Aalamil-Fawaaid].
  2. Namimah (mengadu domba)

    Namimah lebih tercela dan lebih buruk daripada ghibah. Disamping itu merupakan pengkhianatan dan kehinaan yang kemudian berakhir dengan percekcokan, pemutusan silaturahim, dan kebencian di antara teman. Allah ta’ala telah mencela orang yang berperangai seperti ini dengan firman-Nya :
    ูˆَู„ุง ุชُุทِุนْ ูƒُู„َّ ุญَู„ุงูٍ ู…َู‡ِูŠู†ٍ * ู‡َู…َّุงุฒٍ ู…َุดَّุงุกٍ ุจِู†َู…ِูŠู…ٍ * ู…َู†َّุงุนٍ ู„ِู„ْุฎَูŠْุฑِ ู…ُุนْุชَุฏٍ ุฃَุซِูŠู…ٍ
    ”Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa” [QS. Al-Qalam : 10-12].

    Ibnu Katsir menjelaskan :
    {ู…ุดุงุก ุจู†ู…ูŠู…} ูŠุนู†ูŠ ุงู„ุฐูŠ ูŠู…ุดูŠ ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠุญุฑุด ุจูŠู†ู‡ู… ูˆูŠู†ู‚ู„ ุงู„ุญุฏูŠุซ ู„ูุณุงุฏ ุฐุงุช ุงู„ุจูŠู† ูˆู‡ูŠ ุงู„ุญุงู„ู‚ุฉ, ูˆู‚ุฏ ุซุจุช ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู† ู…ู† ุญุฏูŠุซ ู…ุฌุงู‡ุฏ ุนู† ุทุงูˆุณ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ู‚ุงู„: ู…ุฑ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจู‚ุจุฑูŠู† ูู‚ุงู„ «ุฅู†ู‡ู…ุง ู„ูŠุนุฐุจุงู† ูˆู…ุง ูŠุนุฐุจุงู† ููŠ ูƒุจูŠุฑ, ุฃู…ุง ุฃุญุฏู‡ู…ุง ููƒุงู† ู„ุง ูŠุณุชุชุฑ ู…ู† ุงู„ุจูˆู„, ูˆุฃู…ุง ุงู„ุงَุฎุฑ ููƒุงู† ูŠู…ุดูŠ ุจุงู„ู†ู…ูŠู…ุฉ» ุงู„ุญุฏูŠุซ.
    ”Firman-Nya : { ู…ุดุงุก ุจู†ู…ูŠู…} ”yang kian kemari menghambur fitnah” ; yaitu : yang berjalan di tengah-tengah umat manusia seraya memprovokasi mereka serta menyebarluaskan pembicaraan untuk mengaburkan yang sudah jelas. Dan telah ditegaskan dalam Ash-Shahihain, dari hadits Mujahid, dari Thawus, dari Ibnu ’Abbas ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda : ’Kedua orang (yang berada di kuburan ini) sedang disiksa. Keduanya tidak disiksa karena dosa besar (sebagaimana disangka orang, padahal ia merupakan dosa besar – Abul-Jauzaa’). Adapun salah satunya, (mereka disiksa) karena tidak menutup diri saat buang air, sedangkan yang lain (disiksa) karena suka mengadu domba (namimah)’. Al-Hadits” [Tafsir Ibnu Katsir, hal. 564 - Free Program from http://www.islamspirit.com/].

    Tidak disangsikan lagi bahwa namimah termasuk salah satu jenis dosa besar. Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang namimah dengan sabdanya :
    ู„ุง ูŠุฏุฎู„ ุงู„ุฌู†ุฉ ู†ู…ุงู…
    “Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba” [HR. Al-Bukhari no. 6056 dan Muslim no. 105].

    Orang yang mengadu domba adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah, penghuni neraka jahannam dan bila tidak bertaubat akan menjadi hamba yang terhina di dunia dan putus asa dari rahmat Allah di akhirat.

    Asy-Syaikh ’Abdurrahman bin Hasan berkata ketika menjelaskan bahaya dan dampak namimah :
    ูˆุฐูƒุฑ ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ ุนู† ูŠุญูŠู‰ ุจู† ุฃุจูŠ ูƒุซูŠุฑ ู‚ุงู„ : ูŠูุณุฏ ุงู„ู†ู…ุงู… ูˆุงู„ูƒุฐุงุจ ููŠ ุณุงุนุฉ ู…ุง ู„ุง ูŠูุณุฏ ุงู„ุณุงุญุฑ ููŠ ุณู†ุฉ . ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุงู„ุฎุทุงุจ ููŠ ุนูŠูˆู† ุงู„ู…ุณุงุฆู„ : ูˆู…ู† ุงู„ุณุญุฑ ุงู„ุณุนูŠ ุจุงู„ู†ู…ูŠู…ุฉ ูˆุงู„ุฅูุณุงุฏ ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ . ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ูุฑูˆุน : ูˆูˆุฌู‡ู‡ ุฃู† ูŠู‚ุตุฏ ุงู„ุฃุฐู‰ ุจูƒู„ุงู…ู‡ ูˆุนู…ู„ู‡ ุนู„ู‰ ูˆุฌู‡ ุงู„ู…ูƒุฑ ูˆุงู„ุญูŠู„ุฉ ، ุฃุดุจู‡ ุงู„ุณุญุฑ ، ูˆู‡ุฐุง ูŠุนุฑู ุจุงู„ุนุฑู ูˆุงู„ุนุงุฏุฉ ุฃู†ู‡ ูŠุคุซุฑ ูˆูŠู†ุชุฌ ู…ุง ูŠุนู…ู„ู‡ ุงู„ุณุญุฑ ، ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑ ููŠุนุทู‰ ุญูƒู…ู‡ ุชุณูˆูŠุฉ ุจูŠู† ุงู„ู…ุชู…ุงุซู„ูŠู† ุฃูˆ ุงู„ู…ุชู‚ุงุฑุจูŠู† . ู„ูƒู† ูŠู‚ุงู„ : ุงู„ุณุงุญุฑ ุฅู†ู…ุง ูŠูƒูุฑ ู„ูˆุตู ุงู„ุณุญุฑ ูˆู‡ูˆ ุฃู…ุฑ ุฎุงุต ูˆุฏู„ูŠู„ู‡ ุฎุงุต ، ูˆู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ุจุณุงุญุฑ . ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุคุซุฑ ุนู…ู„ู‡ ู…ุง ูŠุคุซุฑู‡ ููŠุนุทูŠ ุญูƒู…ู‡ ุฅู„ุง ููŠู…ุง ุงุฎุชุต ุจู‡ ู…ู† ุงู„ูƒูุฑ ูˆุนุฏู… ู‚ุจูˆู„ ุงู„ุชูˆุจุฉ . ุงู†ุชู‡ู‰ ู…ู„ุฎุตุงً .
    ูˆุจู‡ ูŠุธู‡ุฑ ู…ุทุงุจู‚ุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซ ู„ู„ุชุฑุฌู…ุฉ . ูˆู‡ูˆ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุชุญุฑูŠู… ุงู„ู†ู…ูŠู…ุฉ ، ูˆู‡ูˆ ู…ุฌู…ุน ุนู„ูŠู‡ ู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุฒู… ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ : ุงุชูู‚ูˆุง ุนู„ู‰ ุชุญุฑูŠู… ุงู„ุบูŠุจุฉ ูˆุงู„ู†ู…ูŠู…ุฉ ููŠ ุบูŠุฑ ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ุงู„ูˆุงุฌุจุฉ . ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ุง ู…ู† ุงู„ูƒุจุงุฆุฑ
    .
    ”Ibnu ’Abdil-Barr menyebutkan dari Yahya bin Abi Katsir, dia berkata : ”Para pengadu domba dan pendusta membuat kerusakan dalam satu saat yang tidak dapat dicapai oleh tukang sihir selama setahun”. Abul-Khaththab berkata dalam kitab ’Uyuunul-Masaaail : ”Termasuk sihir adalah berkeliling dengan namimah dan berbuat kerusakan di antara manusia”. Ia juga berkata dalam kitab Al-Furu’ : ”Ini permasalahannya adalah, bahwa orang itu bermaksud menyakiti dengan ucapannya dan perbuatannya dengan cara makar dan tipu muslihat, dan itu menyerupai sihir. Ini dapat diketahui secara adat kebiasaan, bahwa perbuatan itu berpengaruh dan membuahkan sesuatu serupa dengan apa yang dihasilkan oleh sihir, atau bahkan lebih banyak. Maka hukumnya pun serupa dengan sihir, karena di antara keduanya terdapat kesamaan yang saling berdekatan”. Akan tetapi dikatakan bahwa tukang sihir adalah kafir karena kriteria sihirnya. Ia adalah sesuatu yang khusus dan dalil yang dimilikinya pun khusus; sedangkan yang ini (yaitu namimah) tidak seperti pelaku sihir. Akan tetapi keduanya ada kesamaan dalam pengaruh. Maka hukum keduanya pun harus disamakan, kecuali dalam kekafiran yang khusus pada sihir dan tidak diterimanya taubat. Selesai dengan peringkasan.
    Dengan ini jelaslah relevansi hadits ini dengan bab di atas, dan hadits itu menunjukkan haramnya namimah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Ibnu Hazm rahimahullah berkata : “Mereka sepakat atas haramnya ghibah dan namimah di luar nasihat yang wajib. Hal ini juga menunjukkan bahwa namimah termasuk perbuatan dosa besar” [selesai perkataan Asy-Syaikh ’Abdurrahman bin Hasan – Fathul-Majid, hal 283; ta’liq : Ibnu Baaz; Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, Cairo].

    Para ulama berbeda pendapat tentang ghibah dan namimah; apakah keduanya sama atau berbeda ?

    Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata :
    ูˆุฃู† ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุนู…ูˆู…ุง ูˆุฎุตูˆุตุง ูˆุฌู‡ูŠุง ูˆุฐู„ูƒ ู„ุฃู† ุงู„ู†ู…ูŠู…ุฉ ู†ู‚ู„ ุญุงู„ ุงู„ุดุฎุต ู„ุบูŠุฑู‡ ุนู„ู‰ ุฌู‡ุฉ ุงู„ุฅูุณุงุฏ ุจุบูŠุฑ ุฑุถุงู‡ ุณูˆุงุก ูƒุงู† ุจุนู„ู…ู‡ ุฃู… ุจุบูŠุฑ ุนู„ู…ู‡ ูˆุงู„ุบูŠุจุฉ ุฐูƒุฑู‡ ููŠ ุบูŠุจุชู‡ ุจู…ุง ู„ุง ูŠุฑุถูŠู‡ ูุงู…ุชุงุฒุช ุงู„ู†ู…ูŠู…ุฉ ุจู‚ุตุฏ ุงู„ุงูุณุงุฏ ูˆู„ุง ูŠุดุชุฑุท ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ุบูŠุจุฉ ูˆุงู…ุชุงุฒุช ุงู„ุบูŠุจุฉ ุจูƒูˆู†ู‡ุง ููŠ ุบูŠุจุฉ ุงู„ู…ู‚ูˆู„ ููŠู‡ ูˆุงุดุชุฑูƒุชุง ููŠู…ุง ุนุฏุง ุฐู„ูƒ ูˆู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ู† ูŠุดุชุฑุท ููŠ ุงู„ุบูŠุจุฉ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู…ู‚ูˆู„ ููŠู‡ ุบุงุฆุจุง ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…
    ”Bahwasannya di antara keduanya terdapat perbedaan, dan di antara keduanya terdapat sisi keumuman dan kekhususan. Karena namimah adalah menukil keadaan seseorang untuk disampaikan kepada yang lain dengan tujuan membuat kerusakan tanpa keridlaannya, baik ia tahu atau tidak tahu. Sedangkan ghibah adalah menyebut tentang seseorang tanpa kehadiran orang yang disebut dengan sesuatu yang tidak diridlainya. Maka namimah itu terbedakan dengan adanya tujuan untuk merusak, dan ini tidak disyaratkan dalam ghibah. Dan ghibah sendiri terbedakan dengan ketidakhadiran orang yang dibicarakan. Keduanya memiliki sisi kesamaan dalam hal yang selain itu. Di antara ulama ada yang mensyaratkan tentang ghibah, keharusan orang yang dibicarakan tidak ada di tempat. Wallaahu a’lam” [Fathul-Bari, 10/473; Daarul-Ma’rifah, Beirut].
  3. Menyebarkan Rahasia

    Menyebarkan rahasia adalah satu kejujuran yang sangat tercela dan merupakan bukti pengkhianatan dari pelakunya. Ia merupakan satu sikap khianat terhadap amanah. Allah ta’ala telah mengabadikan satu contoh dalam Al-Qur’an :
    ูˆَุฅِุฐْ ุฃَุณَุฑَّ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุฅِู„َู‰ ุจَุนْุถِ ุฃَุฒْูˆَุงุฌِู‡ِ ุญَุฏِูŠุซًุง ูَู„َู…َّุง ู†َุจَّุฃَุชْ ุจِู‡ِ ูˆَุฃَุธْู‡َุฑَู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุนَุฑَّูَ ุจَุนْุถَู‡ُ ูˆَุฃَุนْุฑَุถَ ุนَู†ْ ุจَุนْุถٍ ูَู„َู…َّุง ู†َุจَّุฃَู‡َุง ุจِู‡ِ ู‚َุงู„َุชْ ู…َู†ْ ุฃَู†ْุจَุฃَูƒَ ู‡َุฐَุง ู‚َุงู„َ ู†َุจَّุฃَู†ِูŠَ ุงู„ْุนَู„ِูŠู…ُ ุงู„ْุฎَุจِูŠุฑُ
    ”Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" [QS. At-Tahrim : 3].

    Ayat di atas berisi terkandung satu teguran bagi Ummul-Mukminin Hafshah binti ’Umar bin Al-Khaththab ketika ia membocorkan rahasia Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam yang seharusnya ia simpan. Ia melakukannya karena rasa cemburu dengan madunya (istri beliau shallallaahu ’alaihi wasallam yang lain). Setelah mendapat teguran dari Allah dan Rasul-Nya melalui ayat tersebut, maka ia adalah salah satu wanita yang paling cepat sadar akan kesalahannya, bertaubat, dan kembali kepada kebenaran.

    Para ulama berbeda pendapat mengenai ”rahasia” yang dimaksud dalam ayat. Ada dua pendapat masyhur dalam hal ini :

    Pertama, maksudnya adalah pengharaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam terhadap madu.
    ุนู† ุนุจูŠุฏ ุจู† ุนู…ูŠุฑ ู‚ุงู„ ุณู…ุนุช ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ูŠู…ูƒุซ ุนู†ุฏ ุฒูŠู†ุจ ุงุจู†ุฉ ุฌุญุด، ูˆูŠุซุฑุจ ุนู†ุฏู‡ุง ุนุณู„ุง ูุชูˆุงุตูŠุช ุฃู†ุง ูˆุญูุตุฉ ุฃู† ุฃูŠุชู†ุง ุฏุฎู„ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ูู„ุชู‚ู„: ุฅู†ูŠ ู„ุฃุฌุฏ ู…ู†ูƒ ุฑูŠุญ ู…ุบุงููŠุฑ، ุฃูƒู„ุช ู…ุบุงููŠุฑ. ูุฏุฎู„ ุนู„ู‰ ุฅุญุฏุงู‡ู…ุง ูู‚ุงู„ุช ู„ู‡ ุฐู„ูƒ، ูู‚ุงู„: "ู„ุง ุจุฃุณ ุดุฑุจุช ุนุณู„ุง ุนู†ุฏ ุฒูŠู†ุจ ุงุจู†ุฉ ุฌุญุด ูˆู„ู† ุฃุนูˆุฏ ู„ู‡". ูู†ุฒู„ุช {ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ู„ِู…َ ุชُุญَุฑِّู…ُ ู…َุง ุฃَุญَู„َّ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َูƒَ} ุฅู„ู‰ {ุชَุชُูˆุจَุง ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ} ู„ุนุงุฆุดุฉ ูˆุญูุตุฉ {ูˆَุฅِุฐْ ุฃَุณَุฑَّ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุฅِู„َู‰ ุจَุนْุถِ ุฃَุฒْูˆَุงุฌِู‡ِ ุญَุฏِูŠุซًุง} ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุจู„ ุดุฑุจุช ุนุณู„ุง.
    Dari ’Ubaid bin ’Umair berkata : Aku mendengar ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam tinggal di tempat Zainab binti Jahsy dan beliau meminum madu di sana. Maka aku dan Hafshah bersepakat bahwa siapa saja di antara kami yang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masuk kepadanya, hendaknya ia berkata : ”Sesungguhnya aku mencium bau maghaafir (sesuatu yang kurang sedap baunya)”. Lalu Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam masuk kepada salah satu dari keduanya, ia pun mengatakan hal itu kepada Nabi. Beliau menjawab : ”Tidak mengapa, aku telah minum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan meminumnya lagi”. Maka turunlah ayat : ”Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu” sampai pada ayat : ”Jika kamu berdua bertobat kepada Allah” (QS. At-Tahrim : 1 - 4) – dimana ayat ini turun kepada ’Aisyah dan Hafshah. Adapun ayat : ”Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa” – turun karena perkataan beliau shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Akan tetapi aku meminum madu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 11/293 – dinukil melalui perantaraan Ash-Shahiihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, hal. 217; Maktabah Ibni Taimiyyah, Cet. 4/1408, Cairo].

    Kedua, maksudnya pengharaman terhadap Mariyyah Al-Qibthiyyah. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebut riwayat sebagai berikut :
    ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ู‚ุงู„: ู‚ู„ุช ู„ุนู…ุฑ ุจู† ุงู„ุฎุทุงุจ: ู…ู† ุงู„ู…ุฑุฃุชุงู† ؟ ู‚ุงู„: ุนุงุฆุดุฉ ูˆุญูุตุฉ. ูˆูƒุงู† ุจุฏุก ุงู„ุญุฏูŠุซ ููŠ ุดุฃู† ุฃู… ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ู…ุงุฑูŠุฉ ุงู„ู‚ุจุทูŠุฉ ุฃุตุงุจู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุจูŠุช ุญูุตุฉ ููŠ ู†ูˆุจุชู‡ุง, ููˆุฌุฏุช ุญูุตุฉ: ูู‚ุงู„ุช: ูŠุง ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ ู„ู‚ุฏ ุฌุฆุช ุฅู„ูŠّ ุดูŠุฆุงً ู…ุง ุฌุฆุช ุฅู„ู‰ ุฃุญุฏ ู…ู† ุฃุฒูˆุงุฌูƒ ููŠ ูŠูˆู…ูŠ ูˆููŠ ุฏูˆุฑูŠ ูˆุนู„ู‰ ูุฑุงุดูŠ ู‚ุงู„: «ุฃู„ุง ุชุฑุถูŠู† ุฃู† ุฃุญุฑู…ู‡ุง ูู„ุง ุฃู‚ุฑุจู‡ุง» ู‚ุงู„ุช: ุจู„ู‰ ูุญุฑู…ู‡ุง ูˆู‚ุงู„ ู„ู‡ุง «ู„ุง ุชุฐูƒุฑูŠ ุฐู„ูƒ ู„ุฃุญุฏ»
    Dari Ibnu ’Abbas ia berkata : Aku bertanya kepada ’Umar bin Al-Khaththab : ’Siapa dua wanita yang dimaksudkan dalam ayat ?’. Ia menjawab : ’Aisyah dan Hafshah’. Kejadian itu terjadi berkaitan dengan perkara Ummu Ibrahim Mariyah Al-Qibthiyyah yang digauli Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam di rumah Hafshah, sedangkan hari itu merupakan hari giliran Hafshah. Dan ternyata Hafshah pun melihatnya. Maka ia pun berkata : ”Wahai Nabi Allah, sungguh engkau telah mendatangkan kepadaku sesuatu yang tidak pernah engkau datangkan kepada seorang pun dari para istrimu, di hari (giliran)-ku dan di atas tempat tidurku”. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Tidakkah engkau ridlai, kalau aku haramkan dia dan aku berjanji untuk tidak mendekatinya lagi”. Hafshah berkata : ”Tentu”. Kemudian beliau shallallaahu ’alaihi wasallam mengharamkannya (yaitu mengharamkan Mariyyah Al-Qibthiyyah untuk diri beliau). Dan beliau berkata kepada Hafshah : ”Janganlah engkau ceritakan hal ini kepada siapapun” [Tafsir Ibnu Katsir hal. 560 - Free Program from http://www.islamspirit.com/. Lihat pula beberapa riwayat yang terkait asbaabun-nuzuul ayat dalam kitab Ash-Shahiihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul, hal. 217-218].
    Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa para shahabat adalah orang yang sangat menjaga rahasia :
    ุนู† ุฃู†ุณ ู‚ุงู„ ุฃุชู‰ ุนู„ูŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฃู†ุง ุงู„ุนุจ ู…ุน ุงู„ุบู„ู…ุงู† ู‚ุงู„ ูุณู„ู… ุนู„ูŠู†ุง ูุจุนุซู†ูŠ ุฅู„ู‰ ุญุงุฌุฉ ูุฃุจุทุฃุช ุนู„ู‰ ุฃู…ูŠ ูู„ู…ุง ุฌุฆุช ู‚ุงู„ุช ู…ุง ุญุจุณูƒ ู‚ู„ุช ุจุนุซู†ูŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุญุงุฌุฉ ู‚ุงู„ุช ู…ุง ุญุงุฌุชู‡ ู‚ู„ุช ุงู†ู‡ุง ุณุฑ ู‚ุงู„ุช ู„ุง ุชุญุฏุซู† ุจุณุฑ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃุญุฏุง ู‚ุงู„ ุฃู†ุณ ูˆุงู„ู„ู‡ ู„ูˆ ุญุฏุซุช ุจู‡ ุฃุญุฏุง ู„ุญุฏุซุชูƒ ูŠุง ุซุงุจุช
    Dari Anas ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mendatangiku ketika itu aku sedang bermain-main bersama beberapa orang anak laki-laki, kemudian beliau memberi salam kepada kami. Lalu beliau menyuruhku untuk satu keperluan hingga aku terlambat pulang ke rumah. Dan ketika aku pulang menemui ibuku, ia bertanya : ”Apa yang menyebabkan engkau pulang terlambat ?”. Maka aku pun menjawab : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menyuruhku untuk satu keperluan”. Ia bertanya : ”Apa Apa keperluannya ?”. Aku menjawab : ”Ini rahasia”. Ibuku pun berkata : ”Jangan sekali-kali engkau ceritakan rahasia Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam kepada seorangpun”. Anas berkata : ”Demi Allah, seandainya aku menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku menceritakannya kepadamu wahai Tsabit !” [HR. Al-Bukhari no. 6289 dan Muslim no. 2482].

    Namun, ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa sebagian shahabat menyebutkan satu rahasia dari beliau setelah beliau shallallaahu ’alaihi wasallam wafat. Diantaranya :
    ุนู† ุฃู†ุณ ุจู† ู…ุงู„ูƒ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู…ุนุงุฐ ุฑุฏูŠูู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุญู„ ู‚ุงู„ ูŠุง ู…ุนุงุฐ ุจู† ุฌุจู„ ู‚ุงู„ ู„ุจูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุณุนุฏูŠูƒ ู‚ุงู„ ูŠุง ู…ุนุงุฐ ู‚ุงู„ ู„ุจูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุณุนุฏูŠูƒ ุซู„ุงุซุง ู‚ุงู„ ู…ุง ู…ู† ุฃุญุฏ ูŠุดู‡ุฏ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃู† ู…ุญู…ุฏุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตุฏู‚ุง ู…ู† ู‚ู„ุจู‡ ุฅู„ุง ุญุฑู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุฑ ู‚ุงู„ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃูู„ุง ุฃุฎุจุฑ ุจู‡ ุงู„ู†ุงุณ ููŠุณุชุจุดุฑูˆุง ู‚ุงู„ ุฅุฐุง ูŠุชูƒู„ูˆุง ูˆุฃุฎุจุฑ ุจู‡ุง ู…ุนุงุฐ ุนู†ุฏ ู…ูˆุชู‡ ุชุฃุซู…ุง
    Dari Anas bin Malik : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda kepada Mu’adz ketika ia dibonceng oleh beliau di atas kendaraan : ”Wahai Mu’adz !”. Mu’adz berkata : ”Labbaika ya Rasulallah wa sa’daika!”. Beliau berkata lagi : ”Wahai Mu’adz !”. Mu’adz berkata : ”Labbaika ya Rasulallah wa sa’daika!”. Setelah tiga kali, beliau shallallaahu ’alaihi wasallam melanjutkan : ”Barangsiapa yang bersaksi dengan tulus sepenuh hati bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah, maka Allah akan mengharamkannya dari api neraka”. Mu’adz bertanya : ”Wahai Rasulullah, bolehkah saya beritahukan hal ini kepada manusia agar mereka merasa gembira ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”(Apabila engkau beritahukan hal ini kepada mereka), niscaya akan menyandarkan diri (pada hal ini saja)”. Maka Mu’adz menyampaikan hadits ini menjelang kematiannya karena takut berdoa (jika tidak disampaikan)” [HR. Al-Bukhari no. 128 dan Muslim no. 30].

    Al-Hafidh Ibnu Hajar memberikan satu penjelasan yang sangat bagus dalam mengkompromikan dua hal tersebut, yaitu ketika beliau mengomentari hadits Anas (Shahih Al-Bukhari no. 6289) :
    ู‚ุงู„ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก : ูƒุฃู† ู‡ุฐุง ุงู„ุณุฑ ูƒุงู† ูŠุฎุชุต ุจู†ุณุงุก ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฅู„ุง ูู„ูˆ ูƒุงู† ู…ู† ุงู„ุนู„ู… ู…ุง ูˆุณุน ุฃู†ุณุง ูƒุชู…ุงู†ู‡. ูˆู‚ุงู„ ุจู† ุจุทุงู„ ุงู„ุฐูŠ ุนู„ูŠู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุณุฑ ู„ุง ูŠุจุงุญ ุจู‡ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุนู„ู‰ ุตุงุญุจู‡ ู…ู†ู‡ ู…ุถุฑุฉ ูˆุฃูƒุซุฑู‡ู… ูŠู‚ูˆู„ ุงู†ู‡ ุฅุฐุง ู…ุงุช ู„ุง ูŠู„ุฒู… ู…ู† ูƒุชู…ุงู†ู‡ ู…ุง ูƒุงู† ูŠู„ุฒู… ููŠ ุญูŠุงุชู‡ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุนู„ูŠู‡ ููŠู‡ ุบุถุงุถุฉ ู‚ู„ุช ุงู„ุฐูŠ ูŠุธู‡ุฑ ุงู†ู‚ุณุงู… ุฐู„ูƒ ุจุนุฏ ุงู„ู…ูˆุช ุฅู„ู‰ ู…ุง ูŠุจุงุญ ูˆู‚ุฏ ูŠุณุชุญุจ ุฐูƒุฑู‡ ูˆู„ูˆ ูƒุฑู‡ู‡ ุตุงุญุจ ุงู„ุณุฑ ูƒุฃู† ูŠูƒูˆู† ููŠู‡ ุชุฒูƒูŠุฉ ู„ู‡ ู…ู† ูƒุฑุงู…ุฉ ุฃูˆ ู…ู†ู‚ุจุฉ ุฃูˆ ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ูˆุฅู„ู‰ ู…ุง ูŠูƒุฑู‡ ู…ุทู„ู‚ุง ูˆู‚ุฏ ูŠุญุฑู… ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ุฃุดุงุฑ ุฅู„ูŠู‡ ุจู† ุจุทุงู„ ูˆู‚ุฏ ูŠุฌุจ ูƒุฃู† ูŠูƒูˆู† ููŠู‡ ู…ุง ูŠุฌุจ ุฐูƒุฑู‡ ูƒุญู‚ ุนู„ูŠู‡ ูƒุงู† ูŠุนุฐุฑ ุจุชุฑูƒ ุงู„ู‚ูŠุงู… ุจู‡ ููŠุฑุฌู‰ ุจุนุฏู‡ ุฅุฐุง ุฐูƒุฑ ู„ู…ู† ูŠู‚ูˆู… ุจู‡ ุนู†ู‡ ุงู† ูŠูุนู„ ุฐู„ูƒ
    ”Sebagian ulama mengatakan : ’Sepertinya rahasia itu khusus berkaitan dengan istri-istri Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam. Kalau tidak, andaikan itu tentang ilmu, tidak pantas bagi Anas untuk menyembunyikannya’. Ibnu Baththal mengatakan : ’Yang dipegangi oleh ahli ilmu adalah bahwa menceritakan rahasia itu tidak diperbolehkan jika menimbulkan kemudlaratan bagi orangnya. Mayoritas mereka mengatakan : Apabila dia telah meninggal, maka tidak harus menyembunyikannya sebagaimana keharusan menyembunyikan ketika masih hidup, kecuali jika rahasia itu di dalamnya ada perkara-perkara yang mengandung kerendahan’. Aku (Ibnu Hajar) katakan : Yang lebih jelas (dan tepat) adalah memperinci perkara tersebut, yaitu :

    1. Perkara yang diperbolehkan dan terkadang disukai penyebutannya walaupun si pemilik rahasia tidak menyukainya. Seperti misal, jika rahasia itu mengandung pujian kepadanya karena kemuliaan atau perbuatannya baik atau yang semisal dengan itu.

    2. Perkara yang dibenci secara mutlak dan mungkin diharamkan, dan inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Baththal.

    3. Bahkan bisa jadi diwajibkan apabila dalam rahasia itu ada sesuatu yang wajib disebutkan. Misalnya hak yang harus dipenuhinya, tetapi ia terhalang (dengan sesuatu) sehingga tidak menunaikannya. Kemudian setelah ia meninggal, ada orang yang mau menunaikan hak itu apabila rahasia itu diceritakan” [Fathul-Bari, 11/82].

    Jadi, jika rahasia itu mengandung satu pujian, kebaikan, ilmu, atau hak yang harus ditunaikan; maka boleh – dan bahkan bisa menjadi wajib – untuk disampaikan setelah meninggalnya si pemilik rahasia. Namun jika rahasia itu berkaitan dengan aib, hubungan pribadi suami istri, atau hal-hal yang rendah yang tidak membawa maslahat jika disampaikan – atau bahkan membawa kemudlaratan - , maka rahasia tersebut tidak boleh untuk disampaikan. Wallaahu a’lam.
Demikianlah sedikit uraian yang membahas kejujuran dari ”sisi yang lain”. Semoga ada manfaatnya. Segala ilmu dan kebaikan hanyalah berasal dari Allah ’azza wa jalla.


Sumber : ditulis oleh Abul-Jauzaa’, pada hari Sabtu, 27-12-2008, 14.20, di Ciomas Permai.

No comments:

Post a Comment